Recent comments

:::Assalamualaikum...Welcome to my World... :::

April 25, 2009

Buku Bersama : Kiat Sukses Menaklukan Mahalnya Kehidupan

Filed under: Article, Living in Netherlands - dessynataliani @ 8:21 am

Buku Bersama aka buku keroyokan yang ditulis oleh para perantau Manca Negara:

 Jumiarti Agus (Tokyo, Jepang) , Irawati Prillia (Bremerhaven, Jerman), Cahayahati (Aachen, Jerman), Mieke Nurmalasari (Belgia) , Hani Iskadarwati (Louisville, Kentucky,USA), Dwi I. Lestari (Austria), Yuli Nava (Detroit, USA) , Harwati S. Lindsten (Swedia), Dessy Nataliani (Belanda) , Desti J. Basuki (Kanada), Rose F. Nakamura (Jepang)

 

Meski belum melihat bentuk asli buku ini, tapi saya yakin pengalaman & kiat-kiat para penulis bisa menginspirasi bagaimana kita perlu menyiasati penggunaan uang, menyikapi dan adaptasi dengan kebijakan dan peraturan pemerintah setempat, serta upaya dan kerjasama dengan mukimin senior. Karena hidup di negara orang tidak lah mudah, tidak selalu indah seperti yang kita khayalkan saat berada di negeri sendiri, perlu pengorbanan dan sabar.

Buku ini diterbitkan oleh ACI publishing, harganya Rp. 30.000,- saja.  

Comments (0)

October 1, 2008

Maaf Lahir Bathin..

Filed under: Living in Netherlands - dessynataliani @ 7:23 am

Comments (2)

September 25, 2008

University of Life

Filed under: Article, Living in Netherlands - dessynataliani @ 4:36 am

Pengalaman diri adalah bentuk praktis proses belajar dari pengalaman orang lain & lingkungannya, meski tidak sedikit orang yang nekad trial & error karena dia berbakat menjadi the inventor. Apa yang kita lakukan biasanya tidak jauh beda dari apa yang orang sekitar kita lakukan, walau tidak sepenuhnya mengimitasi. Contoh sederhana, kalau seorang anak melihat bagaimana ibunya menyetrika pakaian maka ketika remaja/dewasa dia akan lakukan persis seperti yang ibunya lakukan, ditambah dengan teknik baru yang mungkin dia pelajari dari orang lain, demikian juga seorang murid kepada gurunya.

Dengan demikian, seharusnya kita dapat lebih jeli dalam melihat, menangkap, memfilter dan menyerap contoh-contoh praktis yang baik dari lingkungan kita. Disini sensitifitas & kreatifitas kita berperan melakukannya. Karena banyak juga orang yang tidak pernah "ngeh" bahwa lingkungannya ternyata very inspiring to fulfill their greatest potential, pun orang tersebut termasuk kategori orang jenius tetapi belum tentu punya sensitifitas & kreatifitas yang baik, hal itu bisa jadi karena pengaruh egonya.

Yang mau saya bahas disini adalah beberapa program BBC, pertama kali lihat program Mind Your Own Business (MYOB) yang mengetengahkan tayangan business development, saya langsung jatuh cinta dengan program-program learningnya BBC. Contoh MYOB yang saya lihat adalah pemugaran usaha kecil seperti toko roti, toko coklat, barber shop, dan yang paling menarik adalah edisi toko bunga. Kisah seorang pengusaha toko bunga yang tokonya sepi dan usahanya nyaris bangkrut. Si pengusaha yang menjalankan usaha keluarga itu, selama bertahun-tahun mempertahankan manajemen lama keluarganya sehingga mengabaikan kemajuan dan perkembangan zaman. Mulai dari suasana toko, dekorasi & penataan bunga-bungan dagangan di etalase, pelayanan, sistem pembayaran sampai karpet toko yang usang ternyata menjadi kendala utama tokonya nyaris bangkrut. Oleh tim BBC, si pengusaha ini dikirim magang ke toko bunga lain yang skala/level permodalannya sama tetapi jauh lebih maju, untuk mempelajari bagaimana manajemen yang diterapkan di toko tersebut. Sementara tim interior BBC membantu mendekor ulang suasana tokonya. Sehingga ketika si pengusaha kembali dari magang dia bisa langsung mempraktekan ilmunya di toko yang sudah didaur ulang tersebut. Selama 1 bulan dipantau perkembangannya, dan rata-rata mereka sukses dan terhindar dari kebangkrutan.

Dan yang paling anyar (masih tayang di TV) adalah progam The Restaurant. Saya nontonnya sudah di edisi ke dua. Seorang pengusaha restaurant asal Perancis, Raymond Blanc, punya program unik rekrutmen untuk cabang-cabang brasseries-nya. Siapa saja boleh ikut penyaringan, mereka terdiri dari pasangan (boleh ayah-anak, suami-istri, maupun teman). Setelah melalui penyaringan ketat, terpilihlah beberapa pasangan yang siap untuk dites & ditraining. Menarik sekali cara tes & trainingnya, pertama Raymond memberi training bagaimana memotong Ikan (besar) yang baik dan memanfaatkan seluruh bagian dari ikan tersebut, karena kesuksesannya adalah berkat Ibu yang mengajarkannya untuk respect terhadap makanan, sehingga tidak ada bahan yang menjadi mubazir, semua harus dapat diolah menjadi masakan. Kemudian pasangan-pasangan tersebut langsung ditempatkan di restaurant yang nantinya akan menjadi tempat dimana mereka bekerjasama dengan Raymond. 

Tes pertama adalah bagaimana memotong & memanfaatkan daging babi (mereka dikirimi 1/2 bagian babi lengkap dengan kepala & buntutnya) tanpa ada bagian yang dibuang. Masing-masing pasangan diberi waktu untuk memikirkan menu babi yang menarik pengunjung, memasak dan mempromosikan menu tersebut. Aneka respon dan trick yang aneh & silly muncul dari para pasangan tersebut, ada yang shock melihat babi 1/2 utuh karena selama ini mungkin cuma pernah lihat slice daging yang dijual di toko, ada yang meramu daging bagian kepala menjadi nugget basah yang si pembuatnya sendiri tidak berminat memakannya, ada yang apes karena bagian terbaik daging malah gosong, ada yang sangat apik mempromosikan menunya dengan memberikan leaflet sembari memberi tester masakan (porsi kecil) dengan memanfaatkan bagian daging yang kurang baik (daging bagian kepala atau kaki), ada yang licik mengakali customer tanpa memberitahu bahwa hidangan tersebut bukan hanya terdiri dari bagian terbaik babi tetapi juga dicampur jeroan & daging kepala, ada yang menyediakan porsi besar untuk menarik pengunjung dengan memasukan begitu banyak daging & jeroan dalam satu porsi makanan, sampai ada yang membuat leaflet secara asal-asalan yang memotongnya pun dengan menggunakan pisau roti (jadilah bagian pinggirnya geridilan semua hahaha..).

Selain teknis penyiapan menu tersebut, juga dinilai kerjasama tim. Dengan load pekerjaan yang banyak ditambah deadline yang cukup pendek mereka harus bisa menyelenggarakan sebuah opening restaurant. Kondisi tersebut otomatis menyebabkan para pasangan sibuk, lelah dan mudah emosi. Ada pasangan yang sejak awal penyiapan sudah ribut & saling berkata kasar, ada pasangan yang salah satunya bossy sekali sehingga partnernya kesal malah sempat mengancam membunuh, ada juga pasangan yang keduanya kebingungan bagaimana memulai & membagi tugas sehingga kerja tidak maksimal.

Kru TV jeli memantau semua proses-proses tersebut, selain itu ada dua orang juri yang datang saat opening, masuk bersama para tamu yang datang atau langsung menuju dapur menginspeksi penggunaan daging (kalau-kalau ada yang dibuang atau tidak termanfaatkan), mencicipi masakan, memantau berapa jumlah tamu yang hadir, laba dari hasil penjualan, sampai mewawancarai tamu tentang rasa & sajian masakan, pemberian layanan, beserta komentar mereka. Melalui kru TV & dua orang juri tersebut, Raymond mendapatkan informasi. Sesudah opening day, pasangan-pasangan itu dikumpulkan untuk mendengarkan penilaian untuk semua kriteria. Ada yang antusias menang, ada yang excited sekaligus nervous, dan ada yang hopeless karena sadar telah banyak melakukan kesalahan. Satu pasangan berhasil lolos karena manajemen & team work yang baik, pasangan lainnya dikenakan training memasak di dapur universitas Oxford.

Dari menonton program yang sangat edukatif ini, saya banyak belajar tentang kesuksesan, motivasi, kinerja, teamwork dan tentunya bagaimana mengendalikan/memanage suatu kondisi yang tak terpikirkan sebelumnya ditambah deadline yang pendek untuk menghasilkan sebuah karya terbaik. Paling tidak, jika saya berada pada kondisi serupa (meski tak sama) tersebut, saya sudah punya bank data, bagaimana mengatasinya. University of life itu lebih berharga, karena praktek, trial & error dalam hidup ini merupakan implementasi dari teori-teori (di bangku sekolah). Tinggal bagaimana sensitifitas & kreatifitas kita masing-masing saja untuk menangkap, menyerap dan memanfaatkannya.

 

Links : http://www.bbc.co.uk/restaurant/about/

Comments (0)

July 28, 2008

Belajar Menjadi Profesional

Filed under: Article, Living in Netherlands - dessynataliani @ 8:56 am

Tiga hari sebelum libur musim panas, si sulung pulang dijemput suami sambil menenteng satu tas besar berisi kumpulan hasil karya dan kegiatan si sulung di kelasnya. Juga ada buku kumpulan hasil tes yang dilakukan gurunya untuk mengetahui kemampuan anak saya. Saya memeriksa lembar demi lembar, selain bersyukur melihat hasil karya dan hasil tes si sulung yang sangat memuaskan, saya juga terkagum-kagum dengan kerja keras gurunya. Bagaimana tidak, ditengah2 kesibukan mengurus dan mengajar sekitar 18 anak usia 4 sampai 6 tahun (karena kelas 1 & 2 digabung) guru si sulung juga harus menyiapkan bahan ajar, mengajar, menyusun & menganalisis hasil didikan & tes, melaporkan & memusyawarahkan dengan dewan guru, yang hasilnya dibukukan untuk dilaporkan kepada orang tua masing-masing anak. Hebatnya semua telah siap 2 bulan sebelum pembagian rapor. Sungguh suatu kerja luar biasa, yang benar-benar dipersiapkan dan dikerjakan dengan teliti dan disiplin.

Sebuah kondisi yang sangat bertentangan jika mengingat kinerja kita orang sebangsa. Kita yang terbiasa mengulur-ulur waktu dalam mengerjakan tugas & kewajiban sehingga konsep SKS (sistem kebut semalam) menjadi habit abadi, yang suka meremehkan pekerjaan sehingga hasil yang dicapai tidak maksimal bahkan lebih buruk dari perkiraan, yang tak pernah mau menempa diri untuk bisa mengalahkan tuntutan jaman, sehingga tidak mengherankan dari era kuda gigit besi hingga era digitalisasi masih itu-itu saja yang dipelajari dan diajarkan, tidak ada inovasi, dan yang paling hakiki kita melakukan pekerjaan bukan karena kecintaan dan niat beribadah tetapi keterpaksaan karena tuntutan butuh uang.

Kembali ke cerita asal,  alhasil buku-buku itu akan saya simpan dengan baik. Suatu hari nanti si sulung pasti ingin membuka kembali kenangan manisnya bersama sang guru yang telah memperhatikan dan mengajarnya dengan baik. Dan bagi saya sendiri buku-buku itu merupakan inspirasi dan cambuk untuk dapat melakukan karya secara lebih profesional.

Note: dedicated to Juff Ellen group 1/2c Carollusschool

Comments (0)

April 29, 2008

Susahnya Jadi Remaja…

Filed under: Children and Development, Living in Netherlands - dessynataliani @ 8:42 am

Berbeda dari kelas kursus bahasa lainnya, kelas oudereducatie yang diselenggarakan basisschool sekolah anak saya selalu diisi dengan acara diskusi. Beberapa waktu lalu diusung pembahasan masalah yang ada di wijk* kami. Bukan hanya peserta kursus, seorang petugas dari wethouder* pun diundang untuk mendengarkan fenomena Hangjeugd diwilayah wijk ini. Entah siapa yang memulai mengeluhkan kondisi ini, saya sendiri yang selama ini seperti siput, tak pernah tahu bahwa di wijk kami ini masalah vandalisme & kriminalisme remaja sedang menggejala. (more…)

Comments (1)

January 23, 2008

The Letter…

Filed under: Living in Netherlands - dessynataliani @ 6:22 pm

It’s weird or perhaps amazing. In coincident, today I got an answer of my big question, which has for sometime lingered on my mind. Question about misinterpretation which happened again 2 weeks ago and turned disturbing my friendship.  
 
“There is head louse (hoofdluis or kutu) on our daughter hair,” told my hubby was on phone, caught between panic and surprise. “Her Juff found it, I received the letter when I was escorting Hannah to the playgroup this morning.”
 
At noon I just picked my daughters up, and on the way home I thought, “What? How comes?” Frankly, I was trying hard to remember that my daughter’s lovely hair was always excellent, each time I comb or shampoo it. Certainly, it just shocked me out, what kind of mother I was who never concerned about something disgust such as head louse on her hair, but her teacher did. Ugh, shame on me!
 
I combed her hair to make sure, right after we arrived home. None, except some little dandruff remains because she always ran away when I tried to shower her head to remove the shampoo. I even checked my older daughter’s hair and mine. Nop! No head louse at all. It slightly relieved me, but still I asked my hubby to buy a special comb and oil to demolish the parasites.

I was thinking badly about it all the afternoon. I suspected people glanced and laughed at my daughters when I was taking back those to school after the meal, thinking they already got the rumours.  Parno! Definitely, the situation has made me suffer…. We should do something if the teacher proved my daughter was living with head louse, put special oil to her hair regularly, if required quarantine them several days until this such disgusting creature gone…so many anticipations flared up in my head….
 
After school, I decided to see the teacher and talked about what had happened. She was smiling and explained to me that my daughter was all right. As mentioned in the letter there was kid in her group that had head louse, and therefore, as regulated here in Dutch schools the teacher should notify parents to check and keep their children hair away from head louse. I was so glad and relieved to hear that.
 
One lesson I learned from this incident that we have to keep calm ourselves whenever we received some information, even in writing, which does not always reflect the whole thing of the writter’s mind. Interpret it carefully, put aside your prejudice, check and recheck before taking action that may lead to worse situation. This kind of circumstance happened twice in my life; two people misinterpreted my letters and I had almost lost them as my good friends…or perhaps they had almost lost me?

Comments (0)
Next Page

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Alex King

  • Home
Online counter
  • Links:
    • Blogsome
    • Blog Odang & Adek
    • Studio-Blog
    • Blog Abah
    • Salamaa
  • Categories:
    • another hobby
    • Anthology
    • Article
    • Children and Development
    • Living in Netherlands
    • my comics
    • my plants
    • News
    • Recipes
Resep Dapur Dessy Yuuk lihat2 & coba resep makanan ala Dessy... Photobucket Photobucket
  • Search: