Susahnya Jadi Remaja…
Berbeda dari kelas kursus bahasa lainnya, kelas oudereducatie yang diselenggarakan basisschool sekolah anak saya selalu diisi dengan acara diskusi. Beberapa waktu lalu diusung pembahasan masalah yang ada di wijk* kami. Bukan hanya peserta kursus, seorang petugas dari wethouder* pun diundang untuk mendengarkan fenomena Hangjeugd diwilayah wijk ini. Entah siapa yang memulai mengeluhkan kondisi ini, saya sendiri yang selama ini seperti siput, tak pernah tahu bahwa di wijk kami ini masalah vandalisme & kriminalisme remaja sedang menggejala.
Hangjeugd
Teman Somali saya (yang merupakan satu-satunya narasumber di kelas, karena teman-teman saya yang lain tidak tinggal di wijk yang sama) bercerita atau tepatnya melaporkan bahwa anak-anak lelaki usia antara 7-19 tahun di sekitar lingkungan wijk ini telah membentuk "geng keluyuran" (hangjeugd). Mereka terdiri dari 15-20an remaja dari penduduk pendatang usia tanggung yang sering bergerombol dan berkeliaran di luar rumah, membuat ulah macam-macam, mulai dari mencuri surat2 dari brieven bus kemudian menghamburkannya, merusak sarana umum, buang air (plasen) sembarangan di sekitar perumahan krn orang tua mereka yang sangat "apik" lebih sayang kalau rumahnya kotor - maka anak-anak disuruhnya bermain & plasen di luar rumah, menggunakan drugs & alkohol, bahkan mengutil baju atau celana yang harganya ratusan euro per potong di wingkelcentrum yang jaraknya kebetulan dekat wijk kami! Modus operandi mencuri ini adalah pesten, yang melakukan bukan anak-anak remaja yang besar tetapi justru anak-anak usia antara 7-10 tahun (yang nantinya akan menjadi generasi penerus geng ini) yang masih innocent… Haalaaahh..kenapa ga dilaporkan ke Polisi? Teman Somali saya jera, cucunya pernah memberikan informasi saat polisi bertanya siapa saja pelakunya, esok harinya brieven bus rumahnya dirusak, kaca jendela dilempari telur! Sejak itu dia lebih memilih merumahkan cucu-cucunya ketimbang membiarkan mereka main di tuin dekat rumah…
Bagaimana respon orang tuanya? Mereka terlalu cuek, sibuk dengan pekerjaannya atau tugas mengurus anak2 yang lebih kecil. Alih-alih memberikan extra perhatian pada para jongen, orang tua pendatang tersebut malah menganggap bahwa anak laki-laki memang harus pergi ke luar rumah, supaya mereka "kuat", kalau anak perempuan harus tinggal di rumah karena banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Guru bahasa Belanda saya yang juga seorang aktivis pun mengakui bahwa anak-anak perempuan penduduk pendatang rata-rata dapat bersekolah dan bekerja di tempat yang baik dibanding anak laki2nya yang dropout sekolah dan bekerja serabutan.
Penasaran, saya berupaya mencari informasi tentang hangjeugd ini di salah satu koran belanda (AD NL), karena biasanya gejala seperti ini tidak hanya dilakukan oleh satu kelompok remaja saja, akan tetapi biasanya akan menjadi trend di kalangan peer remaja. Dan benar saja, dalam kurun 1 bulan sudah ada beberapa berita yang mengangkat fenomena ini. Hangjeugd yang melakukan tindak kriminal & vandalisme juga ada di kota-kota lain seperti Zoetermeer, Schiedam, Rotterdam, Waalwijk di Noord Brabant dan mungkin kota-kota lainnya.
Susahnya jadi Remaja
Masa remaja adalah masa peralihan dari usia anak-anak menuju dewasa. Masa ini merupakan masa yang sulit baik bagi anak maupun orang tua dan lingkungan. Anak2 berada dalam kondisi labil baik fisik maupun mentalnya. Beberapa hal yang muncul pada tahap usia remaja yang umum diantaranya:
1. Krisis Percaya Diri. Satu hal yang dikhawatirkan oleh para remaja adalah penampilan mereka seperti perubahan bentuk tubuh, tata rambut, jerawat dll yang membuat remaja selalu ingin terus bercermin. Jika ada yang tak memuaskannya maka hal ini akan berpengaruh pada self esteem atau rasa percaya diri.
2. Kesalahan & Kegagalan. Beberapa ramaja sering melakukan kesalahan dan kegagalan, baik dalam ujian, pertemanan, olah raga dll. Bagi beberapa remaja mungkin hal tersebut biasa saja, tapi bagi sebagian lainnya hal itu menjadi masalah berat.
3. Memahami emosi. Sebagian remaja terutama laki-laki, mengalami kesulitan untuk mengexpresikan emosinya seperti rasa malu, rasa kesal, kecewa dll sehingga yang keluar adalah rasa marah.
4. Tidak Rapih. Adalah hal biasa terjadi pada remaja dan seringkali membuat orang tua kesal karena rumah/ruang menjadi berantakan karena anak tidak tertib dengan kerapihan.
Sedangkan remaja yang bermasalah memiliki kategori diantaranya adalah:
(1) Mengabaikan aturan dari orang tuanya, (2) Dikeluarkan dari sekolah atau tidak naik kelas, (3) secara verbal kasar, (4) berteman dengan orang/lingkungan buruk, (4) tidak mau lagi ikut kegiatan favoritnya seperti olah raga atau aktifitas lain, (5) membuat orang tua tidak bisa menyuruhnya mengerjakan PR atau membantu pekerjaan rumah, (6) bermasalah dengan hukum, (7) membuat ortu harus behati2 ketika bicara pada anak karena menghindari serangan verbal dari anak,(8) tak mau sekolah lagi, (9) menarik diri dan depresi,(10) tidak dapat menjaga penampilan diri,(11) anak memperlihatkan tanda2 perilaku kekerasan,(12) suka berbohong & berdusta,(13) tidak memiliki motivasi,(14) tidak jujur,(15) memperlihatkan tanda2 perilaku bunuh diri,(16) mencuri barang2 di rumah,(17) membuat orang tua merasa khawatir dengan keselamatan anak,(18) anak mudah marah dan temperamen,(19) tidak memiliki self esteem,(20) membuat orang tua jadi hilang kepercayaan pada anak,(21) anak tidak menghargai peraturan pemerintah,(22) mengikuti perkumpulan atau kegiatan yang orang tua tidak pernah menyetujuinya,(23) terlibat menggunakan obat2an atau berhubungan dengan pengedar drugs,(24) membuat orang tua jadi khawatir dengan masa depan anak,(25) anak selalu menentang keluarga,(26) selalu menentang peraturan dan tidak peduli konsekuensinya,(27) orang tua menjadi putus asa dengan perilaku anak,(28) orang tua merasa tidak lagi memiliki kekuasaan terhadap anak.
Bagaimana menghadapi remaja yang bermasalah?
Dari karakteristik remaja berasalah diatas dapat diambil kesimpulan bahwa jika remaja memiliki karakteristik lebih dari point 18 diatas maka anak dapat digolongkan pada golongan yang beresiko tinggi, parenting yang dilakukan orang tua dapat dipastikan tidak cukup dan ortu harus meminta pertolongan ahli, dalam hal ini ortu dapat minta pertolongan sekolah, jika sekolah tidak mampu membantu maka harus dipindahkan sekolahnya.
Jika remaja berada pada point 9 sd 17 dari karakteristik diatas, maka remaja berada di ambang batas beresiko, yang jika kondisi tersebut didiamkan maka anak akan masuk ke kategori beresiko tinggi. Dengan lebih menguatkan bangunan, ikatan & aturan keluarga serta dengan menunjukkan penghargaan & pujian saat mereka melakukan hal yang positif, maka ortu akan dapat mengatasi masalah remaja. Jika ortu masih belum dapat mengatasi masalah maka ortu harus mencari pemecahan masalah ke luar (dengan bantuan orang luar)
Jika remaja berada pada point 8 karakteristik atau kurang dari pada itu, maka resiko menjadi remaja bermasalah dapat digolongkan dalam masalah yang dapat ditolerir. Upayakan mendorong aturan keluarga, habiskan waktu bersama dengan kualitas yang baik, fokuskan perhatian ortu pada kebutuhan mereka dan beri pujian pada perilaku yang positif.
Dengan dua putri saya yang masih kecil2, saya dan suami masih memiliki waktu mempersiapkan diri dengan mencari informasi & ilmu sebanyak-banyaknya, mengkondisikan rumah agar menjadi tempat yang kondusif bagi anak2, sehingga pada masanya nanti ketika anak-anak kami beranjak menjadi remaja mereka tidak lagi mengalami krisis diri. Saya sadar, anak-anak saya tidak mungkin tinggal terkurung di dalam rumah saja, mereka perlu bergaul, meluaskan wawasan dan pengalaman, yang berarti mereka akan menemui friksi2 yang mungkin bertentangan dengan apa yang kami ajarkan di rumah. Namun, dengan memberikan bekal norma & nilai Islam yang cukup Insya Allah saat mereka berada diluar mereka akan tetap mematuhi norma & nilai tersebut.
Baik anak laki-laki maupun perempuan, semua membutuhkan perhatian dan perlakuan yang sama dari orang tua, bukan karena anak laki-laki maka kita akan mudah melepas mereka atau karena anak perempuan cenderung lebih menurut kita tak pernah merasa khawatir. Karena beberapa waktu kemudian saya menemukan bocah perempuan teman sekolah anak saya (usia 5-6 tahun) sudah terlihat berhang-out dengan gerombolan anak perempuan yang lebih besar. Ternyata Meisje Hangjeudg juga sudah memulainya!
* wijk wilayah perumahan yang kalau di Indonesia mungkin seluas RW
* Wethouder lembaga yang berada dibawah Gemeente fungsinya mengurus berbagai masalah sosial, politik, ekonomi & budaya di wilayahnya. Satu gemeente biasanya memiliki minimal 2 wethouder.
Sumber:
- Hasil sharing & diskusi di kelas bahasa Belanda
- Common teenage problems http://www.bbc.co.uk/parenting/your_kids/teen_problems.shtml
-Is your teenage a Difficult Teen http://www.thearticlesense.com/article/Is-Your-Teenager-A-Difficult-Teen/
- Hangjeugd articles list http://www.ad.nl/search/index.jsp?eceSort=
descending&eceMode=search&eceForm=simple&eceSection
=17&eceExpr=hangjeugd&zoeklocatie=ad




Cara menghadapi anak remaja di masa sekarang memang agak sulit, tapi bagi yang tahu caranya pastiakan gampang sekali untuk menghadapinya. Untuk itu marilah banyak membaca buku untuk mendidik anak kita terutama yang remaja!
Comment by Ajeng — May 26, 2009 @ 7:23 am